Title: Goodbye
Author: Aura Lucine, Desi Leylazana, & Ilaria Kay
Genre: Angst, Romance, Sad
Length: Ficlet
Rating: T
Prolog
Cinta pertama, mungkin setiap orang pernah mengalaminya. Apakah kalian pernah mengalami cinta pertama?
Kisah ini berawal ketika aku pertama kali pindah ke sekolah baruku ini. Aku yang sulit beradaptasi dengan lingkungan baru, cukup sulit mendapatkan teman di sekolah ini. Sampai akhirnya dia datang.
Aku dan dia sama-sama murid baru, jadi wali kelasku menyuruh aku untuk duduk sebangku dengannya.
"Difasya Anggita kamu bisa duduk dengan Haris Pratama," ucap Ms. Jane.
'Oh jadi namanya Haris Pratama,' gumamku dalam hati. Dari penampilannya dia biasa saja, tidak tampan, tidak tinggi, dan sepertinya tidak pintar. Pasti dia teman sebangku yg membosankan.
Si pria membosankan itu menghampiriku "Hai kamu Difasya? Boleh aku duduk di sini?" tanya Haris sambil meletakkan tasnya di bangku sebelah.
"Ya," balasku dingin.
Hening sesaat sampai akhirnya aku yg memulai pembicaraan. "Hei kamu, mari kita buat peraturan!" Pria di sebelahku ini hanya memandangku bingung. "Jadi, mari kita buat batas." Aku pun membatasi meja kami dengan tipe-x. "Siapapun yg melanggar batas harus membayar Rp 5000. Setuju?" Haris hanya terdiam dan mengangguk pasrah. Dan kami pun mengikuti pelajaran dalam diam tanpa sepatah katapun.
Hari demi hari berlalu, tak terasa sudah 2 bulan aku bersekolah di sini. Ternyata Haris tidak seperti yang aku pikirkan. Dia baik, rajin, pintar, dan yang paling membuatku tertarik padanya dia sangat humoris. Selama ini dia selalu membuatku tertawa meskipun kami lebih sering bertengkar. Tetapi dia selalu bisa membuatku tertawa lagi setelah kami bertengkar. Ah sekolah ini menjadi sangat menyenangkan setelah Haris menjadi teman baikku.
Bulan demi bulan pun berganti, aku dan Haris semakin dekat. Segaris tipe-x di atas meja kami pun tiada berarti lagi. Bahkan kini goresan tipe-x itu kian memudar.
Garis tipe-x itu seperti tidak berarti lagi. Aku yang semakin nyaman saat bersama Haris, diam-diam menaruh rasa suka padanya. Hingga akhirnya aku mendapat kabar, Haris mengalami sesuatu yang membuat ia tidak bisa sekolah lagi. Keluarganya pun hanya memberi tahu apa yang terjadi kepada wali kelas dan guru bimbingan konseling.
Aku serta teman-teman di kelas sangat penasaran akan kejadian yang di alami Haris. Tapi teman-teman hanya bisa mendoakan semoga Haris tetap dalam keadaan baik-baik saja.
Tapi perasaanku berbeda, aku ingin mengetahui apa yang terjadi. Dan pada suatu hari aku mendengar percakapan antara guru bimbingan konseling akan keadaan Haris. Aku diam membisu, menatap guru yang sedang bercakap tersebut. Kemudian aku menangis, berlari kencang ke taman belakang.
Aku masih tidak percaya dengan apa yang di alami Haris. Walaupun dia terkadang membuatku jengkel, tapi dia sangat baik. Dan dia selalu membuatku tertawa. Terlebihnya dia membuatku nyaman. Dia juga yang membuatku semangat untuk ke sekolah.
Bel sekolah pun berbunyi, aku segera bangkit dari dudukku dan berjalan menuju kelas. Ketika sampai di kelas, aku menghentikan langkah menatap bangku tempat aku dan Haris duduk. Tempat dimana kita bercanda, tertawa, dan bertengkar. Air mataku menetes lagi. Sebelum ada yang menyadari aku menangis, kuhapus air mata itu.
Terpikir dibenakku untuk tidak duduk di bangku itu lagi, agar aku tidak terus menerus memikirkan keadaan Haris yang mebuatku bersedih. Aku memutuskan untuk duduk bersama July yang duduk sendiri. Awalnya July bertanya kenapa aku pindah tempat duduk, aku hanya menjawab ingin mencari suasana baru dan teman baru. Namun aku berbicara itu adalah berdusta.
Aku berusaha memfokuskan diri seperti biasanya, tapi nyatanya tidak ada satupun materi yang masuk ke otakku. Teman sekelasku memandangku heran karena tidak menjawab pertanyaan di papan tulis hari ini.
Tiba-tiba guru fisika yang sedang mengajar didatangi guru konseling kami lalu berbincang tentang sesuatu. Setelahnya, beliau kembali masuk ke kelas lalu meminta perhatian. Perasaanku mulai tidak enak melihat ekspresinya.
Jangan sekarang.
Aku menunduk mendengar kalimat yang baru saja diucapkan guru fisika tersebut. Haris Pratama meninggal dunia, katanya.
Seluruh kelas gaduh dengan pernyataan yang baru saja diutarakan beliau. Siapa yang tidak kaget mendengarnya? Setahu kami dia tidak memiliki riwayat penyakit ganas.
Memang penyakit bukan alasan mengapa ia meninggal dunia. Dia bunuh diri dengan meminum obat pembunuh serangga. Itu yang aku dapatkan saat menguping di ruang konseling tadi pagi. Aku tidak tahu alasan mengapa ia mengakhiri hidupnya dengan cara tragis seperti itu. Sungguh tidak elit.
Kami mulai memanjatkan doa untuk Haris dipimpin oleh guru fisika kami. Aku bisa dengar isakan tangis beberapa siswa dan siswi di sini. Mataku kembali basah. Jangan menangis!
Setelah bel istirahat berbunyi, aku berjalan lemas seakan ragaku ditinggal rohnya. Mengabaikan tatapan heran mereka yang ada di sekitarku. Barulah aku sadar saat seorang siswi memanggilku lalu memberikanku sepucuk surat. Katanya dari seseorang tapi ia tidak tahu siapa. Aku melirik surat tersebut.
'Untuk Difasya Anggita. Berikan padanya bila melihat ini.'
Ini tulisan tangan seseorang yang aku kenal. Aku membuka lipatan kertas lalu membacanya.
'Hai. Kalau kau membaca ini mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia. Maaf ya pergi tanpa bilang-bilang. Ternyata beban hidup di dunia ini tidak seringan apa yang dibayangkan. Aku pernah membaca bagian belakang buku catatanmu. Kamu juga mau jadi ahli astronomi? Belajar lebih rajin, ya! Jangan seperti aku, bisanya main bunuh diri. Aku pamit. Selamat tinggal.'
"Kamu tidak sopan. Seenaknya membaca privasi orang," gumamku.
Air mataku kembali mengalir. Tangisan kali ini tidak sehebat tangisan saat aku di taman belakang sekolah. Hanya saja hati tetap mencelos dengan kenyataan seperti ini.
Kuusap mataku saat mendengar bel berbunyi. Suratnya kupeluk erat sembari melangkahkan kaki menuju kelas untuk mengikuti kelas selanjutnya. Aku tidak boleh galau. Kata isi suratnya Haris aku harus belajar lebih rajin.
---
Epilog
-Graduation Day-
Lulus? Tak kusangka akan secepat ini. Semua terlihat bahagia. Malah ada yang menangis karena harus merantau dan tidak dapat bertemu lagi teman-temannya. Acara kelulusan ini baru saja selesai. Semua murid memadati lapangan sekolah. Mereka sedang asyik berpelukan, saling bertukar tanda tangan pada seragam mereka dan yang lainnya.
Aku termasuk murid--lebih tepatnya alumni--yang memilih memisahkan diri dari kerumunan tersebut. Aku lebih suka menyumbangkan baju seragamku untuk anak-anak yang tidak mampu daripada harus dirusak untuk hal yang sebenarnya tidak penting-penting amat.
“Difasya Anggita.”
Suara kepala sekolah masih menggema di pikiranku. Aku tersenyum lebar. Menjadi siswi dengan peringkat kelulusan tertinggi satu angkatan itu prestasi yang cukup membanggakan orang tua dan teman-temanmu, bukan? Bahkan yang lebih membanggakan lagi itu di saat dirimu divonis mendapat peluang masuk universitas lebih besar dari yang lainnya karena posisimu.
Kutatap bangku lama yang sudah tidak ku tempati lagi semenjak Haris tidak memunculkan batang hidungnya di kelas ini. Goresan tipe-x yang mulai memudar dimakan usia tersebut menyimpan banyak kenanganku dan Haris. Tanpa kusadari cairan bening mengalir di pipiku. Sedih karena tidak bisa lulus bersama Haris.
“Fasya! Sedang apa kamu? Kelas kita sesi foto sekarang.”
Aku menoleh, mendapati July yang melipat tangannya. “Sebentar ya.” Aku mengusap pelan mataku lalu bangkit. Sempat melirik lagi goresan tipe-x tersebut lalu tersenyum tipis dan mulai berjalan meninggalkan ruang kelas menyusul July.
Untuk dirimu yang ada di tempat yang belum dapat kuraih, terima kasih telah memberikan kenangan indah yang tidak dapat kulupakan. Sampai jumpa lagi di kehidupan selanjutnya.
-FIN-
Label: Angst, Collaboration, Ficlet, Romance, Sad
Jumat, 31 Oktober 2014