Rain
post Jumat, 31 Oktober 2014 speech bubble 0 comment(s)



Title: Rain
Author: Ilaria Kay
Genre: Romance
Length: Drabble
Rating: T

a/n: Tulisan ini pernah dimuat di lain blog dengan alias yang berbeda tapi satu orang. Jadi, tulisan ini memang sepenuhnya milikku. Aku tidak plagiat loh.


Aku berkali-kali merefresh halaman yang sedang aku stalk sambil ditemani suara hujan dan dingin yang memaksa masuk ke dalam kamar sehingga aku membungkus diriku sendiri dengan selimut yang lumayan tebal.

Tatapanku tidak lepas dari layar laptop yang menampilkan halaman itu. Tiba-tiba saja muncul suara dan tulisan error dari aplikasi modem yang menggangguku. Sial, umpatku. Ku matikan saja laptopku.

Suara hujan terdengar sangat deras setelah laptopku telah resmi mati. Membawa ku ke beberapa bulan yang lalu, ketika aku masih menjadi junior dan duduk manis di kelas karena hujan melarangku untuk pulang ke rumah.



“Tidak pulang?”

Ku dengar suara bass dari seseorang yang tentu saja ku kenal. Aku sedikit kaget, mengetahui ia jarang mengajak orang berbicara. Aku mengangguk, lalu kembali melihat hujan yang berlomba untuk turun sampai ke bumi. Ia duduk seenaknya di sebelahku. Mengikuti ku melihat hujan lalu mendengus.

“Hujan kan membawa penyakit, dingin, egois pula. Masa orang pulang dihalangi?” rutuknya.

“Apa jadinya bumi ini tanpa hujan?”

“Tapi kan…”

“Jangan benci hujan. Hujan itu rezeki dari Allah.”

Seketika ia terdiam. Aku masih menatap hujan sampai akhirnya aku bersin karena tidak tahan dengan angin dinginnya yang menusuk. Ku dengar ia terkekeh. Aku lirik dia. Dia memakaikan jaket kesayangannya kepadaku.

“Jangan menolaknya. Kurasa kau membutuhkannya,” ucapnya ringan.

Entah apa yang terjadi, kenapa suhu di sekitar jadi panas seperti di spa ya?

Tiba-tiba dering ponsel memecah keheningan. Aku mengangkatnya. Kakakku kini sudah menjemputku di depan sekolah. Aku menjawab seadanya. Tidak mau pergi begitu saja di moment selangka ini. Aku berdiri lalu mengembalikan jaketnya.

“Kakakku sudah menjemput. Pasti ia membawaku jaket. Sekarang kan kau yang membutuhkannya,” pungkasku ketika melihat ia hendak menolak jaketnya.

Beberapa detik kemudian, ia mengambil jaketnya lalu tersenyum tipis. Aku benar. Moment ini benar-benar langka. Setelah berpamitan, aku bergegas keluar kelas sebelum ia tahu bahwa wajahku sudah terlihat seperti kepiting yang direbus.

Setelah itu, aku sering berharap hujan datang setiap hari agar aku dapat mendengar suaranya lebih lama.

“Hei! Cepat tidur.”

Suara cempreng kakakku menyadarkanku dari lamunanku. Aku mendengus sebal.

“Iya iya kakak bawel!”

Aku menarik selimutku. Tidak peduli kakakku yang mulai mengoceh, lalu terhenti mendengar Mama menceramahinya. Aku terkekeh lalu mendengar suara hujan hingga tertidur lelap.

Hei kau yang namanya ku sebut dalam hati, aku masih berharap hujan turun deras setelah pulang sekolah loh.

Hingga saat ini.


August 4th, 2013
Ilaria Kay

Label: , ,

+ follow
soot sprite(s)
tagboard
HOME | RECENT ENTRIES ►

Theme by latteu

Header by Rizeka @Art Zone