Hide And Seek
post Sabtu, 01 November 2014 speech bubble 0 comment(s)

Title: Hide And Seek
Author: Aura Lucine, Desi Leylazana, & Ilaria Kay
Genre: Horror
Length: Ficlet
Rating: T

Read it first: Another collaboration. Disarankan mendengarkan lagu horror apapun untuk menghayati jalan cerita, kalau bisa lagunya SeeU - Hide And Seek.



---

"Jadi ini kosan kamu. Semoga kamu betah. Kalau ada apa-apa bilang ya," ucap Ibu Tina sambil tersenyum. Ia adalah pemilik kosan ini.

"Iya terimakasih banyak, Bu."

Perkenalkan, namaku Syifa Faradila. Hari ini pertama kalinya aku tinggal di kosan. Karena jarak rumah ke tempat kuliah sangat jauh, aku memilih untuk ngekos. Walaupun awalnya terjadi perdebatan antara aku dengan kedua orang tua, tapi akhirnya aku diizinkan untuk ngekos.

"Cukup sekian materi kali ini. Semoga kalian bisa mengerjakan makalah dengan baik. Selamat siang," ucap dosen biologi mengakhiri kelas hari ini.

"Fa, lo tungguin gue ya. Gue mau ke Pak Joko dulu, mau konsultasi buat lomba karya ilmiah nanti."

"Oke. Gue tunggu di perpus ya. Sekalian gue mau cari referensi buat makalah biologi nanti."

Setelah itu pun Ulfah meninggalkanku di kelas sendirian. Aku pun keluar kelas setelah membereskan beberapa peralatanku lalu menuju ke perpustakaan.

"Permisi Bu, kalau rak buku khusus biologi sebelah mana ya?"

"Sebelah kiri, lorong 2, rak 3."

"Terimakasih, Bu."

Aku mencari buku biologi yang kucari. Dan terlihat seorang perempuan yang sedang duduk membaca buku di lantai, di pojok rak buku. Perempuan itu menatapku lalu ia tersenyum. Dengan gugup, aku pun membalas senyumannya.

"Fakultas apa?" Tiba-tiba ia bertanya.

"Fa-fakultas MIPA."

"Gue sih Fakultas Psikolog."

Hening. Perempuan itu kembali membaca bukunya. Aku pun mengambil beberapa buku yang aku butuhkan.

"Nama gue Tiara," ucapnya lagi.

"Nama gue Syifa," balasku.

Kemudian hening lagi. Hanya terdengar bunyi selembar kertas yang perempuan itu--maksudnya Tiara--buka.

"Gue duluan ya," ucapku sambil tersenyum kearahnya. Ia pun membalasnya dengan senyuman dan anggukkan.

"Bu, saya pinjam ini semua ya."

"Baiklah." Penjaga perpustakaan tersebut lalu mengecek seri buku lalu mencatatnya di catatan peminjaman buku. "Tadi Ibu dengar kamu ngobrol ya. Sama siapa?"

"Tadi kalau gak salah namanya Tiara, Fakultas Psikolog."

"Tiara? Sepertinya baru dengar mahasiswi yang namanya Tiara."

"Tapi nggak mungkin saya salah denger, Bu."

"Dan hari ini Ibu rasa baru kamu yang masuk ke perpustakaan."

"Masa sih, Bu? Mungkin Ibu nggak nyadar ada yang masuk sebelum saya."

"Ini bukunya sudah selesai dicatat. Jangan lupa dikembalikan ya."

Aku mengambil buku yang sudah dicatat tadi lalu melangkah keluar perpustakaan. Melupakan janjiku dengan teman satu fakultasku untuk menemuinya di sana. Aneh. Sudah jelas-jelas tadi ada seorang mahasiswi di sana. Kenapa penjaga perpustakaan tidak menyadarinya?

Aku iseng berjalan ke gedung Fakultas Psikologi. Sekalian tegur sapa dengan teman SMA yang kuliah di fakultas itu. Entah sejak kapan, Tiara yang baru aku temui di perpustakaan tadi sudah ada di gedung itu lalu melambaikan tangannya padaku sambil tersenyum. Aku hanya balas senyum lalu menemui temanku, Hani.

“Lo tadi senyum sama siapa, Fa?”

“Tiara.”

Hening.

“Fa, lo belum tahu ceritanya ya?” ucap Hani. Suaranya terdengar bergetar, tidak seperti biasanya.

“Cerita apa?”

Hani mencoba menceritakan secara detail apa yang ia dengar dari kakak tingkatnya saat di mos itu. Sekujur tubuhku beku seketika. Aku langsung pamit lalu pulang ke kosan ku karena tidak ada lagi makul yang harus didatangi.

Katanya, ada mahasiswi tingkat pertama 4 tahun yang lalu meninggal dengan mengenaskan di fakultas psikologi. Desas-desus mengatakan bahwa dia meninggal setelah terpaksa bermain Hitori Kakurenbo oleh teman-temannya.

Baru saja kulihat dari artikel, Hitori Kakurenbo itu permainan petak umpet dengan hantu. Permainan ini berasal dari Jepang. Media nya digunakan boneka semacam voodoo, pisau, lalu garam dan aku tidak ingat apalagi. Yang jelas bila si rohnya menemukanmu, seluruh badanmu akan menjadi milik si roh itu. Permainan yang seram memang. Dan si Tiara itu memainkannya dan ditemukan oleh roh pada boneka tersebut.

Dan tubuhnya bersatu dengan roh.

Kata orang lagi, setelah tubuhnya bersatu dengan roh tersebut, ia memutuskan bunuh diri dengan pisau yang sudah dijadikan media tusuk-tusukan pada bonekanya. Setelah kejadian itu, katanya roh yang masuk ke tubuh Tiara tersebut gentayangan dengan tampak aslinya Tiara di kampus ini terutama perpustakaan--karena Tiara seorang kutu buku--dan mengajak bermain petak umpet seperti Hitori Kakurenbo pada orang yang bisa melihat roh tersebut.

Dan aku salah satunya.

Aku meringkuk di kasur. Mencoba menyugesti diri bahwa itu tidaklah benar. Besok pagi akan ada quiz anatomi dan fisiologi hewan, tapi sejak tahu cerita tadi, otakku tidak bisa mencerna apa yang aku baca tadi. Aku ketakutan. Bagaimana kalau si Tiara--rohnya--mengajakku main petak umpet?
Ketukan pintu kamar kosanku membuat bulu kudukku berdiri seketika. Sambil melangkah dengan pelan dan mengucapkan ‘Jangan Tiara. Jangan Tiara.’ di dalam hati, aku memberanikan diri membuka sebagian pintu kosanku.

Terlihat seorang perempuan yang memunggungi pintu kosanku. Aku membeku saat dia menoleh padaku. Wajah pucatnya tersenyum manis. Yang mengerikannya adalah, saat senyumannya berubah menjadi seringaian dan matanya berubah menjadi merah menyala. Aku langsung menutup pintu kosanku dan menguncinya dengan cepat. Kenapa harus Tiara?!

“Syifa, ayo bermain petak umpet,” ucapnya lembut.

Aku langsung bersembunyi di lemari baju tanpa suara yang tidak terlihat dari jendela kamar kosan.

“Ding dong, kau sudah masuk permainan ini jadi tidak bisa kabur dariku.”

Tiara tertawa dengan menyeramkan. Persis seperti di film-film horor yang pernah aku tonton. Aku diam terduduk di dalam lemari baju sambil menutup telingaku. Keringat dingin mengalir deras di pipiku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Nafasku tercekat ketika kudengar pintu kosan ku terbuka.

"Syifa... Oh sudah bersembunyi duluan ya rupanya? Ini sungguh menyenangkan bukan? Siap atau tidak aku akan menemukanmu."

Astaga. Ku dengar suara Tiara makin mendekat. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Mengapa aku tidak bisa berpikir? Mengapa tubuhku tidak bisa bergerak? Mengapa aku tidak bisa berbicara?

Kriiiieeeeeek pintu lemari bajuku terbuka.

"Aku menemukanmu Syifaaa... Ayo ikut denganku kita bersenang-senang."

Tiara berubah menjadi sangat mengerikan. Mukanya pucat, matanya melebar dan berubah menjadi warna merah. Mulutnya menyeringai dan mengeluarkan darah. Tangannya yang panjang menyeretku keluar dari lemari.

"TOLOOONG!!! SIAPA PUN TOLOOONG!!!" Aku berhasil mengumpulkan tenaga dan berteriak sebisaku.

Tangan dan kuku Tiara yang panjang mencekik leherku dengan keras. Tubuhku mulai terangkat ke atas. Tiara hanya tertawa menyeringai. Ku dengar beberapa orang memasuki kamarku dan membacakan do'a-do'a sampai akhirnya pandanganku menjadi gelap dan aku pun tak sadarkan diri.

Keesokan harinya aku terbangun di sebuah rumah sakit. Tubuhku baik-baik saja hanya ada beberapa lebam. Orang tuaku, pemilik kosan, dan teman-temanku mengelilingiku. Orang tuaku memelukku, aku tersenyum menyadari bahwa aku masih hidup.

Sore harinya aku diizinkan untuk pulang. Sebelum pulang aku berjalan mengitari taman kecil yg berada di rumah sakit. Aku melihat ke ujung lorong, di sana ada beberapa anak sedang bermain. Ketika aku berbalik tiba-tiba ada anak kecil di belakangku. Wajahnya pucat dan senyumannya tidak wajar.

"Hai, ayo kita main petak umpet."

Label: , ,

+ follow
soot sprite(s)
tagboard
◄ OLDER ENTRIES | HOME | RECENT ENTRIES ►

Theme by latteu

Header by Rizeka @Art Zone