Note
post Sabtu, 08 November 2014 speech bubble 0 comment(s)

Title: Note
Author: Aura Lucine, Desi Leylazana, & Ilaria Kay
Genre: Fluff
Length: Oneshot
Rating: T



Lagi-lagi note.

Kai melirik kertas kecil berwarna biru langit yang ada di tangannya. Sudah beberapa hari ini, Kai selalu mendapatkannya di depan pintu lokernya. Isinya selalu tentang kutipan--entah kutipan dari siapa, di mana, bersama siapa dan sedang berbuat apa--atau sebait puisi yang berisi tentang cinta-cintaan. Mungkin ini dari seorang penggemar gelapnya. Eh, bukan gelap kulitnya. Tapi bisa saja, sih.

Lelaki bertubuh jangkung itu pun membaca isi note tersebut. Penasaran dengan apa yang ditulis oleh si pengirim hari ini.

"Look at the stars. See their beauty. And in that beauty, see yourself."--Draya Mooney

Beruntunglah sang pengirim note tidak sia-sia menulis dengan bahasa dan tulisan sebagus itu. Kai selalu mengagumi apa yang ada di dalamnya. Bahasa sederhana yang punya arti mendalam. Ia selalu penasaran siapa penggemarnya.

"Bro, sepertinya kau melupakan sesuatu."

Kai menoleh ketika seseorang--yang ia kenali sebagai teman sebangkunya--mengatakan itu. Lupa?

Oh tidak.

Dengan sigap, kakinya melangkah cepat mengikuti temannya sambil menyimpan note tersebut di saku celananya. Ia benar-benar tidak ingat bahwa hari ini ia berjanji mengganti piket sebelum kegiatan belajar dimulai. Kai menggaruk pelipisnya. Harusnya tidak usah terpana lama-lama melihat note tadi.

Tanpa sadar sepasang mata memperhatikan Kai sedari tadi dari kejauhan. Ia tersenyum lalu melangkah pergi.

---

Tiga Bulan Yang Lalu (Someone's POV)

Aku tahu bahwa kau menyukai kutipan. Aku tahu bahwa kau menyukai warna biru langit. Aku tahu bahwa kau menyukai aroma coklat. Aku tahu semua tentangmu. Aku mulai menyukaimu sejak peristiwa 3 bulan yg lalu. Mungkin kamu tidak mengingatnya, mungkin itu hanya sebuah peristiwa biasa bagimu. Tapi itu peristiwa yg sangat berarti buatku. Apakah kau ingat peristiwa di stasiun kota?

Saat itu sudah malam, aku baru pulang dari tempat kursus pianoku. Aku berjalan sendirian melewati stasiun kota karena kedua orang tuaku sibuk di kantor sehingga tidak bisa menjemputku. Sebenarnya agak takut sih berjalan sendirian seperti ini, tapi aku tidak ingin merepotkan orang lain. Toh, rumahku tidak terlalu jauh dari stasiun.

Tap tap tap...

Kudengar ada orang yg berjalan di belakangku. Karena takut, akupun mempercepat langkahku. Tapi ternyata mereka pun mempercepat langkah mereka. Aku menoleh ke belakang, rupanya ada 3 orang preman mengikutiku. Aku pun berlari secepat mungkin. Tak sadar bahwa tali sepatuku terlepas, aku menginjak tali sepatuku lalu jatuh ke tanah.

"Aduh sakit...." aku meringis melihat lututku berdarah.

Kini 3 orang preman tadi mengepungku. Aku tidak bisa bergerak karena perih. Satu per satu preman itu mendekat. Aku hanya bisa berteriak minta tolong.

"TOLONG AKU!"

Lalu ada seorang anak laki-laki yg sepertinya tidak asing datang. Anak laki-laki itu menghajar ketiga preman tadi dengan tangan kosong. Ketiga preman tadi kalah lalu berlari meninggalkan aku dan si penolongku ini.

"Hai, kamu tidak apa-apa?" tanya anak laki-laki itu.

"Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit lecet." Aku mencoba berdiri tapi luka ini memang benar-benar sakit, akhirnya aku terjatuh lagi.

"Biar kubantu. Aku akan mengantarmu pulang," kata anak laki-laki itu. Dia langsung mengambil tasku dan membantu aku berdiri. Aku diam tak bisa berkata apapun.

"Terima kasih banyak telah menolongku."

"Sama-sama, aku pulang dulu ya."

"Iya hati-hati. Terima kasih banyak."

Setelah menunggu anak laki-laki itu pergi. Aku langsung masuk ke rumah. Aku duduk di ruang tamu sambil mengobati luka di lututku. "Ah! Aku lupa menanyakan siapa namanya! Bodohnya akuuu. Tapi sepertinya tidak asing... Siapa ya? Ah tunggu! Seragam yg digunakan anak itu kan... Seragam sekolahku! Ya ampun mengapa aku baru menyadarinya? Aku akan cari anak itu di sekolah nanti! Tapi sebelumnya, terima kasih banyak penyelamat hidupku." kataku dalam hati sambil tersenyum.

---

Dia mengingat lagi kejadian 3 bulan yang lalu saat Kai menolongnya. Dia adalah Luna, adik kelas Kai. Mudah sekali untuk Luna mengenali orang yang menolongnya waktu itu. Dan hingga saat ini Luna menyimpan rasa suka kepada Kai. Berhubung Luna suka membaca buku dan dia adalah novelis muda, ia sering mengirim kutipan-kutipan ke loker Kai.

Selama ini Kai-pun sangat senang ketika ia mendapatkan kutipan-kutipan itu, bahkan bisa dibilang ia jatuh cinta pada kutipan itu. Tapi Kai tidak pernah tahu siapa yang mengirim kutipan tersebut.

Hingga suatu hari, saat Luna mengendap-ngendap menuju loker Kai. Tiba-tiba ada tangan yang menepuk pundaknya. Luna menutup matanya ketakutan. Dia berpikir, ia ketahuan oleh Kai. Tapi ternyata tidak. Yang menepuk pundaknya adalah Rio, teman Kai.

"Jadi selama ini kamu yang mengirim note itu?"

"I-iya. Aku yang mengirimnya. Maafkan aku jika aku lancang. Tapi aku mohon jangan beritahukan ini kepadanya."

"Kenapa tidak? Jelas saja Kai sangat penasaran setengah mati kepada orang mengirim note itu."

"Aku mohon. Biar dia saja yang mengetahui dengan sendirinya."

"Aku tahu kau adalah wanita, tetapi dengan terus-terusan seperti ini, kapan akan maju?"

"Entahlah. Tapi aku mohon jangan beritahu soal ini."

"Baiklah. Kau berhutang padaku."

"Terimakasih banyak."

---

“You must believe you are the best and then make sure that you are.”--Bill Shankly

"Kau mendapatkan note itu lagi?" Kai hanya terus memandang note tersebut.

"Kau tidak ingin mencari tahu siapa yang mengirim kutipan tersebut?" ucap Rio sembari mengunyah snack yang ada di tangannya.

"Aku sudah berusaha mencoba itu beberapa kali. Tapi tidak berhasil."

"Kau tidak ahli dalam memata-matai."

"Memang kau ahli? Jangan bercanda."

"Tentu saja! Buktinya dua hari yang lalu aku bertemu dengan orang yang mengirim note tersebut."

"Apa? Kau bertemu dengannya? Dan kau tidak memberi tahu kepadaku?"

Rio diam sejenak. Ia sadar, salah berbicara. Rio membalikan badannya lalu mulai berjalan beberapa langkah.

"Hei! Kau mau kemana?"

"A-aku akan membuang sampah."

Setelah membuang sampah, Rio lari melesat entah kemana. Kai hanya berdecak kesal.

Hari ini Luna menulis kutipan lagi untuk Kai. Dan seperti biasa ia akan melekatkannya ke loker Kai secara diam-diam. Dan ia harap kejadian tiga hari yang lalu tidak terulang. Bahkan ia berharap teman Kai itu tidak memberi tahu yang sebenarnya. Tapi ternyata Kai sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Luna yang menulis kutipan itu dan melekatkannya ke lokernya. Setelah luna pergi, Kai berjalan menuju lokernya dan mengambilnya. Di sana bertuliskan,

"You make a choice in your life, and it affects your life in all the ways, good and bad."--John Mayer

Kai menyimpan note tersebut ke dalam sakunya. Tak lama kemudian bel sekolah berdering, Kai pun segera meninggalkan loker dan masuk menuju kelas.

Setelah pulang sekolah, Kai menunggu seseorang yang biasa mengirim note ke dalam lokernya, maksudnya ia menunggu Luna. Ia ingin bertanya banyak kepada Luna. Luna pun keluar dari pintu kelasnya. Kai berjalan berlawanan arah, menuju Luna. Ia berhenti tepat di depan Luna. Luna tidak berani menatapnya. Ia tertunduk melihat sepatu yang menghalanginya. Dengan cepat Kai memegang dagu Luna, lalu membuat Luna menatapnya. Luna merasa pipinya memanas. Dan sepertinya Kai menyadarinya, ia menurunkan tangan tersebut dari dagu Luna.

"Selamat siang, Nona Luna. Ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan."

"Si-siang. Jangan panggil aku dengan sebutan Nona. Pertanyaan apa? Ta-tanyakan saja."

"Yang pertama, apa benar kau yang menulis note yang berisi kutipan kepadaku?"

Luna mengangguk pelan sekali, bahkan tidak yakin dia itu tadi mengangguk.

"Yang kedua, apa alasanmu melakukan itu?"

Luna terdiam. Luna ragu untuk menjawab. Ia takut Kai sudah melupakan kejadian 2 tahun lalu.

"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Dan janganlah kau menunduk melihat lantai. Kau seperti sedang mencari koin. Hahaha!"

"Aku mengirim itu semua karena dulu kau pernah menolongku dari preman jahat, pada malam hari, saat aku pulang kursus piano."

Kai mencoba mengingat kejadian itu, "Sudah berapa lama kejadian itu berlalu?"

"Hari ini 3 bulan tepatnya kejadian itu berlalu."

Kai menoca mengingat lagi. Ia ingat kejadian itu! Gadis cantik berambut coklat pirang, dengan kacamatanya pulang berjalan kaki sendirian.

"Jadi kau yang waktu itu aku tolong?"

Luna mengangguk sambil tersenyum. Ia senang Kai mengingat kejadian itu.

"Lalu?"

"Se-sebenarnya. Aku... Aku menyukaimu sejak saat itu. Dan aku mengetehaui siapa dirimu karena melihat seragam yang kau pakai waktu itu. Aku mencari tahu dirimu itu siapa."

Luna menunduk lagi. Lalu dengan sigap Kai memegang wajah Luna dengan kedua tangan. Sehingga Luna menatap Kai.

"Apakah kau tahu? Aku menyukaimu sejak kau berjalan sendirian, bersenandung kecil. Kau begitu cantik waktu itu. Sepertinya aku tidak mengenalimu karena kau tidak memakai kacamata. Dan kau terlihat begitu cantik."

Luna merasa wajahnya mulai memerah. Dia melihat ke arah lain. Beberapa detik kemudian Kai memeluknya. Luna dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi, bersandar pada dadanya. Ia bisa merasakan detak jantung Kai.

"Dan kamu tahu? Aku jatuh cinta akan kutipan-kutipan itu. Kutipan tersebut seakan-akan memberiku semangat setiap harinya. Terimakasih karena kau sudah mengirimnya ke dalam lokerku."

Label: , ,

+ follow
soot sprite(s)
tagboard
◄ OLDER ENTRIES | HOME

Theme by latteu

Header by Rizeka @Art Zone