Author: Ilaria Kay
Genre: Angst, Family
Length: Ficlet
Rating: T
Read it first: Tulisan ini merupakan sekuel dari tulisan sebelumnya. Disarankan membaca dahulu Goodbye sebelum membaca tulisan ini.
a/n: Ini memang gak ada hubungannya sama genre sebelumnya. Cuma mau cerita dari sudut pandang si Haris yang bunuh diri gak elit itu /plak/
Tak ada senyuman di wajah lelaki bernama Haris ini. Apalagi saat ia melihat mobil ayahnya yang sudah terparkir di pekarangan rumahnya. Tangannya sedikit basah. Takut memikirkan apa yang akan terjadi padanya nanti.
Ia segera mengusap tangannya dengan sapu tangan yang selalu ia simpan di saku seragamnya untuk mengantisipasi hal semacam ini. Matanya melirik sekilas jam tangan di tangan kirinya. Tidak terlalu telat, mungkin. Hal pertama yang ingin dia lakukan adalah tidur di kasur empuknya.
“Aku pulang.” sahutnya pelan lalu masuk dan menutup pintunya pelan. Seorang pria yang sedang membaca korannya menongak sejenak, melirik putranya yang baru saja datang.
“Dari mana kau?”
“Toko buku. Habis membeli buku soal bisnis untuk dibaca hari ini.” Haris menjawab dengan sigap. Takut kalau ayahnya tahu hal lain yang ia lakukan. Pria itu mengernyit, matanya menyelidik mencari tahu apakah putranya berbohong atau tidak. Namun, raut wajahnya meyakinkan pria tersebut bahwa Haris tidak berbohong.
“Baguslah kalau begitu. Kalau sekali saja aku tahu kau tidak tekun belajar untuk memegang perusahaan ayahmu ini, jangan harap aku menganggapmu anak lagi. Oh ya, jangan lupa kemas barangmu untuk ke Bandung besok.”
Haris mengangguk. Ia baru masuk ke dalam kamarnya setelah pria tersebut kembali menekuni bacaannya. Haris mengunci kamarnya lalu menghela napas. Buku yang baru ia beli tadi dikeluarkannya dari tas. Terlihat dari sampul depannya bahwa itu bukan buku bisnis sama sekali. Warna hitam yang didominasi oleh bintang yang terang benderang disertai beberapa planet yang menghiasi sampul tersebut sudah menunjukan bahwa itu buku astronomi.
Menjadi seorang ahli astronomi itu memang sudah cita-citanya sejak kecil. Ya, cita-cita yang ditentang mentah-mentah oleh ayahnya. Dibesarkan oleh seorang ayah yang ringan tangan ini memang cukup membuat hidupnya terkekang. Apalagi dia dan adiknya, Kania--yang berusia 2 tahun lebih muda--dituntut untuk menjadi anak-anak yang sempurna, yang sesuai dengan apa yang diinginkannya. Dia tidak sungkan-sungkan untuk melayangkan tinju atau menendang anaknya bila sedikit menyimpang kepada mereka.
Tidak ada sesosok ibu yang membela Haris dan Kania di saat itu. Ibunya meninggal saat melahirkan Kania. Mungkin sikap ayahnya yang ringan tangan ini penyebab kondisi buruk ibunya saat melahirkan dulu. Sebenarnya ada paman dan bibinya--yang mereka anggap orang tua mereka sendiri dan sebaliknya--yang masih peduli terhadap mereka. Tapi apa daya ayah Haris lebih tua jadi mereka tidak berani melawan.
Kembali menatap buku astronomi yang ia pinjam, buku itu membuat seulas senyuman di bibir Haris. Ia bertekad merantau ke Bandung untuk berkuliah di universitas bergengsi di sana dan mengambil jurusan astronomi secara diam-diam. Ia sudah sepakat dengan paman dan bibi nya yang tinggal di Bandung untuk merahasiakan jurusan yang dipilih Haris nanti saat merantau kepada ayahnya. Pemikiran itu membuatnya sedikit tenang hingga tidurnya malam itu tidak disinggahi mimpi buruk seperti biasanya.
---
Terdengar suara orang berlari di koridor sekolah. Murid baru yang sedang merantau itu telat datang ke sekolah. Anti-mainstream memang.
“Assalamualaikum. Maaf saya terlambat!”
Seruan Haris tersebut membuat seisi kelas mengarahkan pandangan mereka kepadanya, terutama walikelas dan seorang siswi yang berdiri di depan. Terlihatnya dia merupakan murid baru juga.
“Oh, kau yang bernama Haris itu? Masuklah.”
Sesuai aba-aba, Haris mulai melangkah ke dalam kelas. Beruntunglah walikelasnya tidak marah-marah.
“Difasya Anggita, kamu bisa duduk dengan Haris Pratama.”
Haris mulai melangkah bersama siswi yang bernama Difasya tersebut ke bangku mereka. Siswi itu duduk duluan. Haris tidak duduk duluan karena ia memegang prinsip Ladies First.
“Hai kamu Difasya? Boleh aku duduk di sini?”
Bodoh. Sudah tahu namanya Difasya kenapa nanya lagi. Cantik sih iya. Tapi respon siswi tersebut hampir membuatnya bergidik. Cantik-cantik kok seram, pikirnya. Hening sesaat. Tidak ada topik yang dapat dibicarakan mereka karena belum saling kenal.
Tiba-tiba Difasya membuka suara, “Hei kamu, mari kita buat peraturan!” Haris mengernyit. Peraturan apaan. “Jadi, mari kita buat batas.” Difasya mengeluarkan tipe x nya lalu membatasi daerah masing-masing dengan tipe x tersebut. “Siapapun yang melanggar batas harus membayar Rp 5000. Setuju?”
Apa-apaan ini? Seperti anak Sekolah Dasar saja main batas-batasan. Haris tidak habis pikir dengan Difasya. Ingin sekali dibelah otaknya untuk mengetahui apa yang dipikirkannya. Haris pun mengangguk, tidak mau menimbulkan masalah di hari pertamanya sekolah.
---
Hari demi hari berlalu, Haris merasa ia ingin terus menjahili teman sebangkunya ini. Entah kenapa ia senang kalau melihat Difasya kesal karenanya. Pernah saat itu shock karena teman satu gendernya bilang ia jatuh cinta. Masa sih? Haris mengira temannya berbohong tapi perlahan-lahan ia mulai menyetujuinya. Pantas saja sekarang Haris terlihat lebih bersemangat kalau akan sekolah. Ibunya--maksudnya Bibi--yang mengetahui itu hanya senyum-senyum. Maklum lah sedang puber.
Di samping masa-masa menyenangkan itu, Haris merasa bodoh sempat mengira ia tidak akan melihat ayahnya dalam jangka waktu yang lama. Beberapa bulan berlalu dalam kedamaian di Bandung sampai sebuah panggilan telepon pagi ini menyeret lelaki itu kembali ke kenyataan.
Menjelang sore hari Haris sudah berdiri di depan rumahnya. Ia segera pulang ke Jakarta setelah mendengar kabar adiknya menjadi korban ‘latihan tinju’ ayahnya. Mengabaikan tangannya yang berkeringat, Haris mengeratkan jaketnya lalu masuk ke dalam rumahnya.
Lalu mendapat sambutan selamat datang yang tidak menyenangkan.
Kania meringis kesakitan karena dipukuli ayahnya oleh pecut. Haris yang melihatnya langsung lari melindungi Kania. Sang ayah yang melihat Haris langsung melampiaskan amarahnya kepada Haris. Kepala, wajah, leher, pundak, perut, betis. Semuanya tidak terlewat serangan pecut ayahnya.
“Dasar anak tak berguna! Sudah kubilang singkirkan omong kosong tersebut!”
Haris membelalak. Ayahnya tahu? Dari mana?
Dan di sana Haris meringkuk, melindungi wajah dengan tangannya. Tidak ada perlawanan atau teriakan. Berteriak hanya membuatnya lelah, lagipula tidak ada yang peduli. Hanya erangan yang kadang terdengar ditimpali bunyi pukulan. Setelah amarah ayahnya reda dan meninggalkan mereka berdua, Haris segera membawa Kania ke kamarnya. Merawat bekas pecutan pada adiknya lalu menyelimutinya.
Haris terduduk lemas. Rambutnya ia jambak kasar. Jika begini caranya, cita-citanya kandas di tengah jalan. Pandangannya sekilas melihat obat pembunuh serangga. Hei, dipikir-pikir kini apa tujuannya untuk hidup? Kenapa ia bertahan dan tidak mengalah pada keputusasaan selama lima belas tahun. Kenapa ia tidak menyusul ibunya saja?
Ia mendekati meja belajarnya. Menulis sebuah surat yang ditujukan untuk seseorang. Setelahnya, Haris mengambil obat pembunuh serangga tersebut. Tangannya terhenti. Masa ia mati konyol seperti ini? Teringat Difasya yang ada di Bandung kini. Ah, baru saja ia menyukai seseorang dan ia harus bunuh diri? Haris menghela napas. Ia melirik surat yang baru saja ditulisnya tadi.
“Maaf ya, Difasya, Kania.” batinnya.
Tangannya membuka cepat penutup obat pembunuh serangga lalu segera menelannya sampai habis. Pengaruh zat kimia tersebut langsung bereaksi pada tubuhnya karena meminumnya terlalu banyak.
“Kakak!”
Haris tidak menghiraukan yang didengarnya. Ia mulai kejang-kejang dan mulutnya mengeluarkan busa. Penderitaan itu berakhir saat semuanya gelap.